• Puisi
  • TV Online
  • Radio online
  • Live score Bola
  • Film
  • Games
  • Tukar Link
  •  joyodrono
    Diberdayakan oleh Blogger.

    Inilah Islam Indonesia

    Mungkin ini jawaban foto
    Islam Kejawaan (Taddaburan/maiyahan) di Indonesia.
    Alhamdulillah, akhir-akhir ini orang merasakan manfaatnya Nahdlatul
    Ulama (NU). Dulu, orang yang paling bahagia, paling sering merasakan
    berkahnya NU adalah keluarga orang yang sudah meninggal : setiap hari
    dikirimi doa dan tumpeng.
    Hari ini begitu dunia dilanda kekacauan, ketika Dunia Islam galau: di
    Afganistan perang sesama Islam, di Suriah perang sesama Islam, di
    Irak, perang sesama Islam. Semua ingin tahu, ketika semua sudah jebol,
    kok ada yang masih utuh: Islam di Indonesia.
    Akhirnya semua ingin kesini, seperti apa Islam di Indonesia kok masih
    utuh. Akhirnya semua sepakat: utuhnya Islam di Indonesia itu karena
    memiliki jamiyyah NU. Akhirnya semua pingin tahu NU itu seperti apa.
    Ternyata, jaman dulu ada orang Belanda yang sudah menceritakan santri
    NU, namanya Christia Snouck Hurgronje. Dia ini hafal Alquran, Sahih
    Bukhori, Sahih Muslim, Alfiyyah Ibnu Malik, Fathul Mu'in , tapi tidak
    islam, sebab tugasnya menghancurkan Islam Indonesia.
    Mengapa? Karena Islam Indonesia selalu melawan Belanda. Sultan
    Hasanuddin, santri. Pangeran Diponegoro atau Mbah Abdul Hamid, santri.
    Sultan Agung, santri. Mbah Zaenal Mustofa, santri. Semua santri kok
    melawan Belanda.
    Akhirnya ada orang belajar secara khusus tentang Islam, untuk mencari
    rahasia bagaimana caranya Islam Indonesia ini remuk. Snouck Hurgronje
    masuk ke Indonesia dengan menyamar namanya Syekh Abdul Ghaffar. Dia
    belajar Islam, menghafalkan Alquran dan Hadis di Arab. Maka akhirnya
    paham betul Islam.
    Hanya saja begitu ke Indonesia, Snouck Hurgronje bingung: mencari
    Islam dengan wajah Islam, tidak ketemu. Ternyata Islam yang
    dibayangkan dan dipelajari Snouck Hurgronje itu tidak ada.
    Mencari Allah disini tidak ketemu, ketemunya Pangeran. Ketemunya
    Gusti. Padahal ada pangeran namanya Pangeran Diponegoro. Ada Gusti
    namanya Gusti Kanjeng. Mencari istilah shalat tidak ketemu, ketemunya
    sembahyang. Mencari syaikhun, ustadzun , tidak ketemu, ketemunya kiai.
    Padahal ada nama kerbau namanya kiai slamet. Mencari mushalla tidak
    ketemu, ketemunya langgar.
    Maka, ketika Snouck Hurgronje bingung, dia dibantu Van Der Plas. Ia
    menyamar dengan nama Syekh Abdurrahman. Mereka memulai dengan belajar
    bahasa Jawa. Karena ketika masuk Indonesia, mereka sudah bisa bahasa
    Indonesia, bahasa Melayu, tapi tidak bisa bahasa Jawa.
    Begitu belajar bahasa Jawa, mereka bingung, strees. Orang disini
    makanannya nasi (sego). Snouck Hurgronje dan Van Der Plas tahu bahasa
    beras itu, bahasa inggrisnya rice, bahasa arabnya ar-ruz .
    Yang disebut ruz, ketika di sawah, namanya pari, padi. Disana masih
    ruz, rice. Begitu padi dipanen, namanya ulen-ulen, ulenan. Disana
    masih ruz, rice. Jadi ilmunya sudah mulai kucluk , korslet.
    Begitu ditutu, ditumbuk, digiling, mereka masih mahami ruz, rice ,
    padahal disini sudah dinamai gabah. Begitu dibuka, disini namanya
    beras, disana masih ruz, rice . Begitu bukanya cuil, disini namanya
    menir, disana masih ruz, rice. Begitu dimasak, disini sudah dinamai
    sego , nasi, disana masih ruz, rice.
    Begitu diambil cicak satu, disini namanya
    upa, disana namanya masih ruz, rice. Begitu dibungkus daun pisang,
    disini namanya lontong, sana masih ruz, rice. Begitu dibungkus janur
    kuning namanya ketupat, sana masih ruz, rice. Ketika diaduk dan
    hancur, lembut, disini namanya bubur, sana namanya masih ruz, rice.
    Inilah bangsa aneh, yang membuat Snouck Hurgronje judeg, pusing.
    Mempelajari Islam Indonesia tidak paham, akhirnya mencirikan Islam
    Indonesia dengan tiga hal. Pertama, kethune miring sarunge nglinting
    (berkopiah miring dan bersarung ngelinting). Kedua, mambu rokok (bau
    rokok). Ketiga, tangane gudigen (tangannya berpenyakit kulit).
    Cuma tiga hal itu catatan (pencirian Islam Indonesia) Snouck Hurgronje
    di Perpustakaan Leiden, Belanda. Tidak pernah ada cerita apa-apa, yang
    lain sudah biasa. Maka, jangankan Snouck Hurgronje, orang Indonesia
    saja kadang tidak paham dengan Islam Indonesia, karena kelamaan di
    tanah Arab.
    Lihat tetangga pujian, karena tidak paham, bilang bid'ah . Melihat
    tetangga menyembelih ayam untuk tumpengan, dibilang bid'ah. Padahal
    itu produk Islam Indonesia. Kelamaan diluar Indonesia, jadi tidak
    paham. Masuk kesini sudah kemlinthi, sok-sokan, memanggil Nabi dengan
    sebutan "Muhammad" saja. Padahal, disini, tukang bakso saja dipanggil
    "Mas". Padahal orang Jawa nyebutnya Kanjeng Nabi.
    Lha , akhir-akhir ini semakin banyak yang tidak paham Islam Indonesia.
    Kenapa? Karena Islam Indonesia keluar dari rumus-rumus Islam dunia,
    Islam pada umumnya. Kenapa? Karena Islam Indonesia ini saripati
    (essensi) Islam yang paling baik yang ada di dunia.
    Kenapa? Karena Islam tumbuhnya tidak disini, tetapi di Arab.
    Rasulullah orang Arab. Bahasanya bahasa Arab. Yang dimakan juga
    makanan Arab. Budayanya budaya Arab. Kemudian Islam datang kesini, ke
    Indonesia.
    Kalau Islam masuk ke Afrika itu mudah, tidak sulit, karena waktu itu
    peradaban mereka masih belum maju, belum terdidik. Orang belum
    terdidik itu mudah dijajah. Seperti pilkada, misalnya, diberi Rp
    20.000 atau mie instan sebungkus, beres. Kalau mengajak orang
    berpendidikan, sulit, dikasih uang Rp 10 juta belum tentu mau.
    Islam datang ke Eropa juga dalam keadaan terpuruk. Tetapi Islam datang
    kesini, mikir-mikir dulu, karena bangsa di Nusantara ini sedang
    kuat-kuatnya. Bangsa anda sekalian ini bukan bangsa kecoak. Ini karena
    ketika itu sedang ada dalam kekuasaan negara terkuat yang menguasai
    2/3 dunia, namanya Majapahit.
    Majapahit ini bukan negara sembarangan. Universitas terbesar di dunia
    ada di Majapahit, namanya Nalanda. Hukum politik terbaik dunia yang
    menjadi rujukan adanya di Indonesia, waktu itu ada di Jawa, kitabnya
    bernama Negarakertagama. Hukum sosial terbaik ada di Jawa, namanya
    Sutasoma. Bangsa ini tidak bisa ditipu, karena orangnya pintar-pintar
    dan kaya-raya.
    Cerita surga di Jawa itu tidak laku. Surga itu (dalam penggambaran
    Alquran): tajri min tahtihal anhaar (airnya mengalir), seperti kali.
    Kata orang disini: "mencari air kok sampai surga segala? Disini itu,
    sawah semua airnya mengalir." Artinya, pasti bukan itu yang
    diceritakan para ulama penyebar Islam. Cerita surga tentang buahnya
    banyak juga tidak, karena disini juga banyak buah. Artinya dakwah
    disini tidak mudah.
    Diceritain pangeran, orang Jawa sudah punya Sanghyang Widhi.
    Diceritain Ka'bah orang jawa juga sudah punya stupa: sama-sama batunya
    dan tengahnya sama berlubangnya. Dijelaskan menggunakan tugu Jabal
    Rahmah, orang Jawa punya Lingga Yoni.
    Dijelaskan memakai hari raya kurban, orang Jawa punya peringatan hari
    raya kedri. Sudah lengkap. Islam datang membawa harta-benda, orang
    Jawa juga tidak doyan. Kenapa? Orang Jawa pada waktu itu beragama
    hindu. Hindu itu berprinsip yang boleh bicara agama adalah orang
    Brahmana, kasta yang sudah tidak membicarakan dunia.
    Dibawah Brahmana ada kasta Ksatria, seperti kalau sekarang Gubernur
    atau Bupati. Ini juga tidak boleh bicara agama, karena masih ngurusin
    dunia. Dibawah itu ada kasta namanya Wesya (Waisya), kastanya pegawai
    negeri. Kasta ini tidak boleh bicara agama.
    Di bawah itu ada petani, pedagang dan saudagar, ini kastanya Sudra .
    Kasta ini juga tidak boleh bicara agama. Jadi kalau ada cerita Islam
    dibawa oleh para saudagar, tidak bisa dterima akal. Secara teori ilmu
    pengetahuan ditolak, karena saudagar itu Sudra dan Sudra tidak boleh
    bicara soal agama.
    Yang cerita Islam dibawa saudagar ini karena saking judeg-nya,
    bingungnya memahami Islam di Indonesia. Dibawahnya ada kasta paria,
    yang hidup dengan meminta-minta, mengemis. Dibawah Paria ada pencopet,
    namanya kasta Tucca. Dibawah Tucca ada maling, pencuri, namanya kasta
    Mlecca. Dibawahnya lagi ada begal, perampok, namanya kasta Candala.
    Anak-anak muda NU harus tahu. Itu semua nantinya terkait dengan
    Nahdlatul Ulama. Akhirnya para ulama kepingin, ada tempat begitu
    bagusnya, mencoba diislamkan. Ulama-ulama dikirim ke sini.
    Namun mereka menghadapi masalah, karena orang-orang disini mau memakan
    manusia. Namanya aliran Bhirawa. Munculnya dari Syiwa. Mengapa ganti
    Syiwa, karena Hindu Brahma bermasalah. Hindu Brahma, orang Jawa bisa
    melakukan tetapi matinya sulit. Sebab orang Brahma matinya harus moksa
    atau murco.
    Untuk moksa harus melakukan upawasa. Upawasa itu tidak makan, tidak
    minum, tidak ngumpulin istri, kemudian badannya menyusut menjadi kecil
    dan menghilang. Kadang ada yang sudah menyusut menjadi kecil, tidak
    bisa hilang, gagal moksa, karena teringat kambingnya, hartanya. Lha
    ini terus menjadi jenglot atau batara karang.
    Jika anda menemukan jenglot ini, jangan dijual mahal karena itu produk
    gagal moksa. Pada akhirnya, ada yang mencari ilmu yang lebih mudah,
    namanya ilmu ngrogoh sukmo . Supaya bisa mendapat ilmu ini, mencari
    ajar dari Kali. Kali itu dari Durga. Durga itu dari Syiwa, mengajarkan
    Pancamakara.
    Supaya bisa ngrogoh sukmo, semua sahwat badan dikenyangi, laki-laki
    perempuan melingkar telanjang, menghadap arak dan ingkung daging
    manusia. Supaya syahwat bawah perut tenang, dikenyangi dengan seks
    bebas. Sisa-sisanya sekarang ada di Gunung Kemukus.
    Supaya perut tenang, makan tumpeng. Supaya pikiran tenang, tidak
    banyak pikiran, minum arak. Agar ketika sukma keluar dari badan, badan
    tidak bergerak, makan daging manusia. Maka jangan heran kalau muncul
    orang-orang macam Sumanto.
    Ketika sudah pada bisa ngrogoh sukmo, ketika sukmanya pergi di ajak
    mencuri namanya
    ngepet . Sukmanya pergi diajak membunuh manusia namanya santet. Ketika
    sukmanya diajak pergi diajak mencintai wanita namanya pelet. Maka
    kemudian di Jawa tumbuh ilmu santet, pelet dan ngepet.
    Ada 1.500 ulama yang dipimpin Sayyid Aliyudin habis di-ingkung oleh
    orang Jawa pengamal Ngrogoh Sukma. Untuk menghindari pembunuhan lagi,
    maka Khalifah Turki Utsmani mengirim kembali tentara ulama dari Iran,
    yang tidak bisa dimakan orang Jawa.
    Nama ulama itu Sayyid Syamsuddin Albaqir Alfarsi. Karena lidah orang
    Jawa sulit menyebutnya, kemudian di Jawa terkenal dengan sebutan Syekh
    Subakir. Di Jawa ini di duduki bala tentara Syekh Subakir, kemudian
    mereka diusir.
    Ada yang lari ke Pantai Selatan, Karang Bolong, Srandil Cicalap,
    Pelabuhan Ratu, dan Banten. Di namai Banten, di ambil dari bahasa
    Sansekerta, artinya Tumbal. Yang lari ke timur, naik Gunung Lawu,
    Gunung Kawi, Alas Purwo Banyuwangi (Blambangan). Disana mereka
    dipimpin Menak Sembuyu dan Bajul Sengoro.
    Karena Syekh Subakir sepuh, maka pasukannya dilanjutkan kedua muridnya
    namanya Mbah Ishak (Maulana Ishak) dan Mbah Brahim (Ibrahim
    Asmoroqondi). Mereka melanjutkan pengejaran. Menak Sembuyu menyerah,
    anak perempuannya bernama Dewi Sekardadu dinikahi Mbah Ishak,
    melahirkan Raden Ainul Yaqin Sunan Giri yang dimakamkan di Gresik.
    Sebagian lari ke Bali, sebagian lari ke Kediri, menyembah Patung Totok
    Kerot, diuber Sunan Bonang, akhirnya menyerah. Setelah menyerah,
    melingkarnya tetap dibiarkan tetapi jangan telanjang, arak diganti air
    biasa, ingkung manusia diganti ayam, matra ngrogoh sukmo diganti
    kalimat tauhid; laailaahaillallah. Maka kita punya adat tumpengan.
    Kalau ada orang banyak komentar mem-bid'ah -kan, ceritakanlah ini.
    Kalau ngeyel, didatangi: tabok mulutnya. Ini perlu diruntutkan, karena
    NU termasuk yang masih mengurusi beginian.
    Habis itu dikirim ulama yang khusus mengajar ngaji, namanya Sayyid
    Jamaluddin al-Husaini al-Kabir. Mendarat di Semarang dan menetap di
    daerah Merapi. Orang Jawa sulit mengucapkan, maka menyebutnya Syekh
    Jumadil Kubro.
    Disana dia punya murid namanya Syamsuddin, pindah ke Jawa Barat,
    membuat pesantren puro di daerah Karawang. Punya murid bernama Datuk
    Kahfi, pindah ke Amparan Jati, Cirebon. Punya murid Syarif
    Hidayatullah Sunan Gunung Jati. Inilah yang bertugas mengislamkan
    Padjajaran. Maka kemudian ada Rara Santang, Kian Santang dan
    Walangsungsang.
    Nah , Syekh Jumadil Kubro punya putra punya anak bernama Maulana Ishak
    dan Ibrahim Asmoroqondi, bapaknya Walisongo. Mbah Ishak melahirkan
    Sunan Giri. Mbah Ibrahim punya anak Sunan Ampel. Inilah yang bertugas
    mengislamkan Majapahit.
    Mengislamkan Majapahit itu tidak mudah. Majapahit orangnya
    pinter-pinter. Majapahit Hindu, sedangkan Sunan Ampel Islam. Ibarat
    sawah ditanami padi, kok malah ditanami pisang. Kalau anda begitu,
    pohon pisang anda bisa ditebang.
    Sunan Ampel berpikir bagaimana caranya? Akhirnya beliau mendapat
    petunjuk ayat Alquran. Dalam surat Al-Fath, 48:29 disebutkan : "....
    masaluhum fit tawrat wa masaluhum fil injil ka zar'in ahraja sat'ahu
    fa azarahu fastagladza fastawa 'ala sukıhi yu'jibuz zurraa, li yagidza
    bihimul kuffar………"
    Artinya: "…………Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan
    sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang
    mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu
    menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu
    menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan
    hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin)……………"
    Islam itu seperti tanaman yang memiliki anak-anaknya, kemudian hamil,
    kemudian berbuah, ibu dan anaknya bersama memenuhi pasar, menakuti
    orang kafir. Tanaman apa yang keluar anaknya dulu baru kemudian ibunya
    hamil? Jawabannya adalah padi.
    Maka kemudian Sunan Ampel dalam menanam Islam seperti menanam padi.
    Kalau menanam padi tidak di atas tanah, tetapi dibawah tanah, kalau
    diatas tanah nanti dipatok ayam, dimakan tikus.
    Mau menanam Allah, disini sudah ada istilah pangeran. Mau menanam
    shalat, disini sudah ada istilah sembahyang. Mau menanam syaikhun,
    ustadzun, disini sudah ada kiai. Menanam tilmidzun, muridun , disini
    sudah ada shastri, kemudian dinamani santri. Inilah ulama dulu,
    menanamnya tidak kelihatan.
    Menanamnya pelan-pelan, sedikit demi sedikit: kalimat syahadat, jadi
    kalimasada. Syahadatain, jadi sekaten. Mushalla, jadi langgar. Sampai
    itu jadi bahasa masyarakat. Yang paling sulit mememberi pengertian
    orang Jawa tentang mati.
    Kalau Hindu kan ada reinkarnasi. Kalau dalam Islam, mati ya mati
    (tidak kembali ke dunia). Ini paling sulit, butuh strategi kebudayaan.
    Ini pekerjaan paling revolusioner waktu itu. Tidak main-main, karena
    ini prinsip. Prinsip inna lillahi wa inna ilaihi rajiun berhadapan
    dengan reinkarnasi. Bagaimana caranya?
    Oleh Sunan Ampel, inna lillahi wa inna ilaihi rajiun kemudian
    di-Jawa-kan: Ojo Lali Sangkan Paraning Dumadi.
    Setelah lama diamati oleh Sunan Ampel, ternyata orang Jawa suka
    tembang, nembang, nyanyi. Beliau kemudian mengambil pilihan:
    mengajarkan hal yang sulit itu dengan tembang. Orang Jawa memang
    begitu, mudah hafal dengan tembang.
    Orang Jawa, kehilangan istri saja tidak lapor polisi, tapi nyanyi:
    ndang baliyo, Sri, ndang baliyo . Lihat lintang, nyanyi: yen ing
    tawang ono lintang, cah ayu. Lihat bebek, nyanyi: bebek adus kali
    nyucuki sabun wangi. Lihat enthok: menthok, menthok, tak kandhani,
    mung rupamu. Orang Jawa suka nyanyi, itulah yang jadi pelajaran.
    Bahkan, lihat silit (pantat) saja nyanyi: … ndemok silit, gudighen.
    Maka akhirnya, sesuatu yang paling sulit, berat, itu ditembangkan.
    Innalillahi wa inna ilaihi rajiun diwujudkan dalam bentuk tembang
    bernama Macapat . Apa artinya Macapat? Bahwa orang hidup harus bisa
    membaca perkara Empat.
    Keempat perkara itu adalah teman nyawa yang berada dalam raga ketika
    turun di dunia. Nyawa itu produk akhirat. Kalau raga produk dunia.
    Produk dunia makanannya dunia, seperti makan. Yang dimakan, sampah
    padatnya keluar lewat pintu belakang, yang cair keluar lewat pintu
    depan.
    Ada sari makanan yang disimpan, namanya mani (sperma). Kalau mani ini
    penuh, bapak akan mencari ibu, ibu mencari bapak, kemudian dicampur
    dan dititipkan di rahim ibu. Tiga bulan jadi segumpal darah, empat
    bulan jadi segumpal daging. Inilah produk dunia.
    Begitu jadi segumpal daging, nyawa dipanggil. "Dul, turun ya,". "Iya,
    Ya Allah". "Alastu birabbikum?" (apakah kamu lupa kalau aku Tuhanmu?).
    "Qalu balaa sahidnya," (Iya Ya Allah, saya jadi saksi-Mu), jawab sang
    nyawa,. "fanfuhur ruuh" (maka ditiupkanlah ruh itu ke daging). Maka
    daging itu menjadi hidup. Kalau tidak ditiup nyawa, tidak hidup daging
    ini. (lihat, a.l.: Q.S. Al-A'raf, 7:172, As-Sajdah: 7 -10, Al-Mu'min:
    67, ed. )
    Kemudian, setelah sembilan bulan, ruh itu keluar dengan bungkusnya,
    yaitu jasad. Adapun jasadnya sesuai dengan orang tuanya: kalau orang
    tuanya pesek anaknya ya pesek; orang tuanya hidungnya mancung anaknya
    ya mancung; orang tuanya hitam anaknya ya hitam; kalau orang tuanya
    ganteng dan cantik, lahirnya ya cantik dan ganteng.
    Itu disebut Tembang Mocopat: orang hidup harus membaca perkara empat.
    Keempat itu adalah teman nyawa yang menyertai manusia ke dunia, ada di
    dalam jasad. Nyawa itu ditemani empat: dua adalah Iblis yang bertugas
    menyesatkan, dan dua malaikat yang bertugas nggandoli, menahan. Jin
    qarin dan hafadzah.
    Itu oleh Sunan Ampel disebut Dulur Papat Limo Pancer. Ini metode
    mengajar. Maka pancer ini kalau mau butuh apa-apa bisa memapakai dulur
    tengen (teman kanan) atau dulur kiwo (teman kiri). Kalau pancer kok
    ingin istri cantik, memakai jalan kanan, yang di baca Ya Rahmanu Ya
    Rahimu tujuh hari di masjid, yang wanita nantinya juga akan cinta.
    Tidak mau dulur tengen, ya memakai yang kiri, yang dibaca aji-aji
    Jaran Goyang, ya si wanita jadinya cinta, sama saja. Kepingin perkasa,
    kalau memakai kanan yang dipakai kalimah La haula wala quwwata illa
    billahil 'aliyyil 'adzim . Tak mau yang kanan ya memakai yang kiri,
    yang dibaca aji-aji Bondowoso, kemudian bisa perkasa.
    Mau kaya kalau memakai jalan kanan ya shalat dhuha dan membaca Ya
    Fattaahu Ya Razzaaqu , kaya. Kalau tidak mau jalan kanan ya jalan
    kiri, membawa kambing kendhit naik ke gunung kawi, nanti pulang kaya.
    Maka, kiai dengan dukun itu sama; sama hebatnya kalau tirakatnya kuat.
    Kiai yang 'alim dengan dukun yang tak pernah mandi, jika sama
    tirakatnya, ya sama saktinya: sama-sama bisa mencari barang hilang.
    Sama terangnya. Bedanya: satu terangnya lampu dan satunya terang rumah
    terbakar.
    Satu mencari ayam dengan lampu senter, ayamnya ketemu dan senternya
    utuh; sedangkan yang satu mencari dengan blarak (daun kelapa kering
    yang dibakar), ayamnya ketemu, hanya blarak-nya habis terbakar. Itu
    bedanya nur dengan nar.
    Maka manusia ini jalannya dijalankan seperti tembang yang awalan,
    Maskumambang: kemambange nyowo medun ngalam ndunyo , sabut ngapati,
    mitoni , ini rohaninya, jasmaninya ketika dipasrahkan bidan untuk
    imunisasi.
    Maka menurut NU ada ngapati, mitoni,
    karena itu turunnya nyawa. Setelah Maskumambang, manusia mengalami
    tembang Mijil. Bakal Mijil : lahir laki-laki dan perempuan. Kalau
    lahir laki-laki aqiqahnya kambing dua, kalau lahir perempuan aqiqahnya
    kambing satu.
    Setelah Mijil, tembangnya Kinanti. Anak-anak kecil itu, bekalilah
    dengan agama, dengan akhlak. Tidak mau ngaji, pukul. Masukkan ke TPQ,
    ke Raudlatul Athfal (RA). Waktunya ngaji kok tidak mau ngaji, malah
    main layangan, potong saja benangnya. Waktu ngaji kok malah mancing,
    potong saja kailnya.
    Anak Kinanti ini waktunya sekolah dan ngaji. Dibekali dengan agama,
    akhlak. Kalau tidak, nanti keburu masuk tembang Sinom: bakal menjadi
    anak muda (cah enom), sudah mulai ndablek, bandel.
    Apalagi, setelah Sinom, tembangnya asmorodono , mulai jatuh cinta. Tai
    kucing serasa coklat. Tidak bisa di nasehati. Setelah itu manusia
    disusul tembang Gambuh , laki-laki dan perempuan bakal membangun rumah
    tangga, rabi, menikah.
    Setelah Gambuh, adalah tembang Dhandanggula. Merasakan manis dan
    pahitnya kehidupan. Setelah Dhandanggula , menurut Mbah Sunan Ampel,
    manusia mengalami tembang Dhurma.
    Dhurma itu: darma bakti hidupmu itu apa? Kalau pohon mangga setelah
    berbuah bisa untuk makanan codot, kalau pisang berbuah bisa untuk
    makanan burung, lha buah-mu itu apa? Tenagamu mana? Hartamu mana?
    Ilmumu mana yang didarmabaktikan untuk orang lain?
    Khairunnas anfa'uhum linnas , sebaik-baik manusia adalah yang
    bermanfaat untuk manusia lainnya. Sebab, kalau sudah di Dhurma tapi
    tidak darma bakti, kesusul tembang Pangkur.
    Anak manusia yang sudah memunggungi dunia: gigi sudah copot, kaki
    sudah linu. Ini harus sudah masuk masjid. Kalau tidak segera masuk
    masjid kesusul tembang Megatruh : megat, memutus raga beserta
    sukmanya. Mati.
    Terakhir sekali, tembangnya Pucung. Lha ini, kalau Hindu reinkarnasi,
    kalau Islam Pucung . Manusia di pocong. Sluku-sluku Bathok, dimasukkan
    pintu kecil. Makanya orang tua (dalam Jawa) dinamai buyut, maksudnya :
    siap-siap mlebu lawang ciut (siap-siap masuk pintu kecil).
    Adakah yang mengajar sebaik itu di dunia?
    Kalau sudah masuk pintu kecil, ditanya Malaikat Munkar dan Nankir.
    Akhirnya itu, yang satu reinkarnasi, yang satu buyut . Ditanya: "Man
    rabbuka?" , dijawab: "Awwloh,". Ingin disaduk Malaikat Mungkar – Nakir
    apa karena tidak bisa mengucapkan Allah.
    Ketika ingin disaduk, Malaikat Rakib buru-buru menghentikan: "Jangan
    disiksa, ini lidah Jawa". Tidak punya alif, ba, ta, punyanya ha, na,
    ca, ra, ka . "Apa sudah mau ngaji?"kata Mungkar – Nakir. "Sudah, ini
    ada catatanya, NU juga ikut, namun belum bisa sudah meninggal".
    "Yasudah, meninggalnya orang yang sedang belajar, mengaji, meninggal
    yang dimaafkan oleh Allah."
    Maka, seperti itu belajar. Kalau tidak mau belajar, ditanya, "Man
    rabbuka?" , menjawab, "Ha……..???". langsung dipukul kepalanya:
    "Plaakkk!!". Di- canggah lehernya oleh malaikat. Kemudian jadi wareng
    , takut melihat akhirat, masukkan ke neraka, di- udek oleh malaikat,
    di-gantung seperti siwur, iwir-iwir, dipukuli modal-madil seperti
    tarangan bodhol , ajur mumur seperti gedhebok bosok.
    Maka, pangkat manusia, menurut Sunan Ampel: anak – bapak – simbah –
    mbah buyut – canggah – wareng – udek-udek – gantung siwur – tarangan
    bodol – gedhebok bosok. Lho, dipikir ini ajaran Hindu. Kalau seperti
    ini ada yang bilang ajaran Hindu, kesini, saya tabok mulutnya!
    Begitu tembang ini jadi, kata Mbah Bonang, masa nyanyian tidak ada
    musiknya. Maka dibuatkanlah gamelan, yang bunyinya Slendro Pelok :
    nang ning nang nong, nang ning nang nong, ndang ndang, ndang ndang,
    gung . Nang ning nang nong: yo nang kene yo nang kono (ya disini ya
    disana); ya disini ngaji, ya disana mencuri kayu.
    Lho, lha ini orang-orang kok. Ya seperti disini ini: kelihatannya
    disini shalawatan, nanti pulang lihat pantat ya bilang: wow!. Sudah
    hafal saya, melihat usia-usia kalian. Ini kan kamu pas pakai baju
    putih. Kalau pas ganti, pakainya paling ya kaos Slank.
    Nah, nang ning nang nong, hidup itu ya disini ya disana. Kalau pingin
    akhiran baik, naik ke ndang ndang, ndang ndang, gung. Ndang balik ke
    Sanghyang Agung. Fafirru illallaah , kembalilah kepada Allah.
    Pelan-pelan. Orang sini kadang tidak paham kalau itu buatan Sunan
    Bonang.
    Maka, kemudian, oleh Kanjeng Sunan Kalijaga, dibuatkan tumpeng agar
    bisa makan. Begitu makan kotor semua, dibasuh dengan tiga air bunga:
    mawar, kenanga dan kanthil.
    Maksudnya: uripmu mawarno-warno, keno ngono keno ngene, ning atimu
    kudhu kanthil nang Gusti Allah (Hidupmu berwarna-warni, boleh seperti
    ini seperti itu, tetapi hatimu harus tertaut kepada Allah). Lho , ini
    piwulang-piwulangnya, belum diajarkan apa-apa. Oleh Sunan Kalijaga,
    yang belum bisa mengaji, diajari Kidung Rumekso Ing Wengi. Oleh Syekh
    Siti Jenar, yang belum sembahyang, diajari syahadat saja.
    Ketika tanaman ini sudah ditanam, Sunan Ampel kemudian ingin tahu:
    tanamanku itu sudah tumbuh apa belum? Maka di-cek dengan tembang Lir
    Ilir, tandurku iki wis sumilir durung? Nek wis sumilir, wis ijo
    royo-royo, ayo menek blimbing. Blimbing itu ayo shalat. Blimbing itu
    sanopo lambang shalat.
    Disini itu, apa-apa dengan lambang, dengan simbol: kolo-kolo teko ,
    janur gunung. Udan grimis panas-panas , caping gunung. Blimbing itu
    bergigir lima. Maka, cah angon, ayo menek blimbing . Tidak cah angon
    ayo memanjat mangga.
    Akhirnya ini praktek, shalat. Tapi prakteknya beda. Begitu di ajak
    shalat, kita beda. Disana, shalat 'imaadudin, lha shalat disini,
    tanamannya mleyor-mleyor, berayun-ayun.
    Disana dipanggil jam setengah duabelas kumpul. Kalau disini dipanggil
    jam segitu masih disawah, di kebun, angon bebek, masih nyuri kayu.
    Maka manggilnya pukul setengah dua. Adzanlah muadzin, orang yang
    adzan. Setelah ditunggu, tunggu, kok tidak datang-datang.
    Padahal tugas Imam adalah menunggu makmum. Ditunggu dengan memakai
    pujian. Rabbana ya rabbaana, rabbana dholamna angfusana , – sambil
    tolah-toleh, mana ini makmumnya – wainlam taghfirlana, wa tarhamna
    lanakunanna minal khasirin.
    Datang satu, dua, tapi malah merokok di depan masjid. Tidak masuk.
    Maka oleh Mbah Ampel: Tombo Ati, iku ono limang perkoro….. . Sampai
    pegal, ya mengobati hati sendiri saja. Sampai sudah lima kali kok
    tidak datang-datang, maka kemudian ada pujian yang agak galak: di
    urugi anjang-anjang……. , langsung deh, para ma'mum buruan masuk. Itu
    tumbuhnya dari situ.
    Kemudian, setelah itu shalat. Shalatnya juga tidak sama. Shalat
    disana, dipanah kakinya tidak terasa, disini beda. Begitu Allahu Akbar
    , matanya bocor: itu mukenanya berlubang, kupingnya bocor,
    ting-ting-ting, ada penjual bakso. Hatinya bocor: protes imamnya
    membaca surat kepanjangan. Nah, ini ditambal oleh para wali, setelah
    shalat diajak dzikir, laailaahaillallah.
    Hari ini, ada yang protes: dzikir kok kepalanya gedek-gedek,
    geleng-geleng? Padahal kalau sahabat kalau dzikir diam saja. Lho,
    sahabat kan muridnya nabi. Diam saja hatinya sudah ke Allah. Lha orang
    sini, di ajak dzikir diam saja, ya malah tidur. Bacaannya dilantunkan
    dengan keras, agar ma'mum tahu apa yang sedang dibaca imam.
    Kemudian, dikenalkanlah nabi. Orang sini tidak kenal nabi, karena nabi
    ada jauh disana. Kenalnya Gatot Kaca. Maka pelan-pelan dikenalkan
    nabi. Orang Jawa yang tak bisa bahasa Arab, dikenalkan dengan syair:
    kanjeng Nabi Muhammad, lahir ono ing Mekkah, dinone senen, rolas mulud
    tahun gajah.
    Inilah cara ulama-ulama dulu kala mengajarkan Islam, agar masyarakat
    disini kenal dan paham ajaran nabi. Ini karena nabi milik orang banyak
    (tidak hanya bangsa Arab saja). Wamaa arsalnaaka illa rahmatal lil
    'aalamiin ; Aku (Allah) tidak mengutusmu (Muhammad) kecuali untuk
    menjadi rahmat bagi alam semesta.
    Maka, shalawat itu dikenalkan dengan cara berbeda-beda. Ada yang
    sukanya shalawat ala Habib Syekh, Habib Luthfi, dll. Jadi jangan heran
    kalau shalawat itu bermacam-macam. Ini beda dengan wayang yang hanya
    dimiliki orang Jawa.
    Orang kalau tidak tahu Islam Indonesia, pasti bingung. Maka Gus Dur
    melantunkan shalawat memakai lagu dangdut. Astaghfirullah, rabbal
    baraaya, astaghfirullah, minal khataaya, ini lagunya Ida Laila: Tuhan
    pengasih lagi penyayang, tak pilih kasih, tak pandang sayang. Yang
    mengarang namanya Ahmadi dan Abdul Kadir.
    Nama grupnya Awara. Ida Laila ini termasuk Qari' terbaik dari Gresik.
    Maka lagunya bagus-bagus dan religius, beda dengan lagu sekarang yang
    mendengarnya malah bikin kepala pusing. Sistem pembelajaran yang
    seperti ini, yang dilakukan oleh para wali. Akhirnya orang Jawa mulai
    paham Islam.
    Namun selanjutnya Sultan Trenggono tidak sabaran: menerapkan Islam
    dengan hukum, tidak dengan budaya. "Urusanmu kan bukan urusan agama,
    tetapi urusan negara," kata Sunan Kalijaga. "Untuk urusan agama,
    mengaji, biarlah saya yang mengajari," imbuhnya.
    Namun Sultan Trenggono terlanjur tidak sabar. Semua yang tidak sesuai
    dan tidak menerima Islam di uber-uber. Kemudian Sunan Kalijaga
    memanggil anak-anak kecil dan diajari nyanyian:
    Gundul-gundul pacul, gembelengan.
    Nyunggi-nyunggi wangkul, petentengan.
    Wangkul ngglimpang segane dadi sak latar 2x
    Gundul itu kepala. Kepala itu ra'sun. Ra'sun itu pemimpin. Pemimpin
    itu ketempatan empat hal: mata, hidung, lidah dan telinga. Empat hal
    itu tidak boleh lepas. Kalau sampai empat ini lepas, bubar.
    Mata kok lepas, sudah tidak bisa melihat rakyat. Hidung lepas sudah
    tidak bisa mencium rakyat. Telinga lepas sudah tidak mendengar rakyat.
    Lidah lepas sudah tidak bisa menasehati rakyat. Kalau kepala sudah
    tidak memiliki keempat hal ini, jadinya gembelengan.
    Kalau kepala memangku amanah rakyat kok terus gembelengan, menjadikan
    wangkul ngglimpang, amanahnya kocar-kacir. Apapun jabatannya, jika
    nanti menyeleweng, tidak usah di demo, nyanyikan saja Gundul-gundul
    pacul. Inilah cara orang dulu, landai.
    Akhirnya semua orang ingin tahu bagaimana cara orang Jawa dalam
    ber-Islam. Datuk Ribandang, orang Sulawesi, belajar ke Jawa, kepada
    Sunan Ampel. Pulang ke Sulawesi menyebarkan Islam di Gunung
    Bawakaraeng, menjadilah cikal bakal Islam di Sulawesi.
    Berdirilah kerajaan-kerajaan Islam di penjuru Sulawesi. Khatib Dayan
    belajar Islam kepada Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga. Ketika kembali
    ke Kalimantan, mendirikan kerajaan-kerajaan Islam di Kalimantan.
    Ario Damar atau Ario Abdillah ke semenanjung Sumatera bagian selatan,
    menyebarkan dan mendirikan kerajaan-kerajaan di Sumatera.
    Kemudian Londo (Belanda) datang. Mereka semua – seluruh kerajaan yang
    dulu dari Jawa – bersatu melawan Belanda.
    Ketika Belanda pergi, bersepakat dalam Negara Kesatuan Republik
    Indonesia. Maka kawasan di Indonesia disebut wilayah, artinya
    tinggalan para wali. Jadi, jika anda meneruskan agamanya, jangan lupa
    kita ditinggali wilayah. Inilah Nahdlatul Ulama, baik agama maupun
    wilayah, adalah satu kesatuan: NKRI Harga Mati.
    Maka di mana di dunia ini, yang menyebut daerahnya dengan nama
    wilayah? Di dunia tidak ada yang bisa mengambil istilah: kullukum
    raa'in wa kullukum mas uulun 'an ra'iyatih ; bahwa Rasulullah
    mengajarkan hidup di dunia dalam kekuasaan ada sesuatu yaitu
    pertanggungjawaban.
    Dan yang bertanggungjawab dan dipertanggung jawabkan disebut ra'iyyah.
    Hanya Indonesia yang menyebut penduduknya dengan sebutan ra'iyyah atau
    rakyat. Begini kok banyak yang bilang tidak Islam.
    Nah, sistem perjuangan seperti ini diteruskan oleh para ulama
    Indonesia. Orang-orang yang meneruskan sistem para wali ini, dzaahiran
    wa baatinan, akhirnya mendirikan sebuah organisasi yang dikenal dengan
    nama Jam'iyyah Nahdlatul Ulama.
    Kenapa kok bernama Nahdlatul Ulama. Dan kenapa yang menyelamatkan
    Indonesia kok Nahdlatul Ulama? Karena diberi nama Nahdlatul Ulama.
    Nama inilah yang menyelamatkan. Sebab dengan nama Nahdlatul Ulama,
    orang tahu kedudukannya: bahwa kita hari ini, kedudukannya hanya
    muridnya ulama.
    Meski, nama ini tidak gagah. KH Ahmad Dahlan menamai organisasinya
    Muhammadiyyah: pengikut Nabi Muhammad, gagah. Ada lagi organisasi,
    namanya Syarekat Islam, gagah. Yang baru ada Majelis Tafsir Alquran,
    gagah namanya. Lha ini "hanya" Nahdlatul Ulama. Padahal ulama kalau di
    desa juga ada yang hutang rokok.
    Tapi Nahdlatul Ulama ini yang menyelamatkan, sebab kedudukan kita hari
    ini hanya muridnya ulama. Yang membawa Islam itu Kanjeng Nabi. Murid
    Nabi namanya Sahabat. Murid sahabat namanya tabi'in . Tabi'in bukan
    ashhabus-shahabat , tetapi tabi'in , maknanya pengikut.
    Murid Tabi'in namanya tabi'it-tabi'in , pengikutnya pengikut. Muridnya
    tabi'it-tabi'in namanya tabi'it-tabi'it-tabi'in , pengikutnya
    pengikutnya pengikut. Lha kalau kita semua ini namanya apa? Kita
    muridnya KH Hasyim Asy'ari.
    Lha KH Hasyim Asy'ari hanya muridnya Kiai Asyari. Kiai Asyari
    mengikuti gurunya, namanya Kiai Usman. Kiai Usman mengikuti gurunya
    namanya Kiai Khoiron, Purwodadi (Mbah Gareng). Kiai Khoiron murid Kiai
    Abdul Halim, Boyolali.
    Mbah Abdul Halim murid Kiai Abdul Wahid. Mbah Abdul Wahid itu murid
    Mbah Sufyan. Mbah Sufyan murid Mbah Jabbar, Tuban. Mbah Jabbar murid
    Mbah Abdur Rahman, murid Pangeran Sambuh, murid Pangeran Benowo, murid
    Mbah Tjokrojoyo, Sunan Geseng.
    Sunan Geseng hanya murid Sunan Kalijaga, murid Sunan Bonang, murid
    Sunan Ampel, murid Mbah Ibrahim Asmoroqondi, murid Syekh Jumadil
    Kubro, murid Sayyid Ahmad, murid Sayyid Ahmad Jalaludin, murid Sayyid
    Abdul Malik, murid Sayyid Alawi Ammil Faqih, murid Syekh Ahmad Shohib
    Mirbath.
    Kemudian murid Sayyid Ali Kholiq Qosam, murid Sayyid Alwi, murid
    Sayyid Muhammad, murid Sayyid Alwi, murid Sayyid Ahmad Al-Muhajir,
    murid Sayyid Isa An-Naquib, murid Sayyid Ubaidillah, murid Sayyid
    Muhammad, murid Sayyid Ali Uraidi, murid Sayyid Ja'far Shodiq, murid
    Sayyid Musa Kadzim, murid Sayyid Muhammad Baqir. Sayyid Muhammad Baqir
    hanya murid Sayyid Zaenal Abidin, murid Sayyidina Hasan – Husain,
    murid Sayiidina Ali karramallahu wajhah . Nah, ini yang baru muridnya
    Rasulullah saw.
    Kalau begini nama kita apa? Namanya ya
    tabiit-tabiit-tabiit-tabiit-tabiit-tabiit…, yang panjang sekali. Maka
    cara mengajarkannya juga tidak sama. Inilah yang harus difahami.
    Rasulullah itu muridnya bernama sahabat, tidak diajari menulis
    Alquran. Maka tidak ada mushaf
    Alquran di jaman Rasulullah dan para sahabat. Tetapi ketika sahabat
    ditinggal wafat Rasulullah, mereka menulis Alquran.
    Untuk siapa? Untuk para tabi'in yang tidak bertemu Alquran. Maka
    ditulislah Alquran di jaman Sayyidina Umar dan Sayyidina Utsman.
    Tetapi begitu para sahabat wafat, tabi'in harus mengajari dibawahnya.
    Mushaf Alquran yang ditulis sahabat terlalu tinggi, hurufnya rumit
    tidak bisa dibaca. Maka pada tahun 65 hijriyyah diberi tanda "titik"
    oleh Imam Abu al-Aswad ad-Duali, agar supaya bisa dibaca.
    Tabiin wafat, tabi'it tabi'in mengajarkan yang dibawahnya. Titik tidak
    cukup, kemudian diberi "harakat" oleh Syekh Kholil bin Ahmad
    al-Farahidi, guru dari Imam Sibawaih, pada tahun 150 hijriyyah.
    Kemudian Islam semakin menyebar ke penjuru negeri, sehingga Alquran
    semakin dibaca oleh banyak orang dari berbagai suku dan ras. Orang
    Andalusia diajari " Waddluha" keluarnya " Waddluhe".
    Orang Turki diajari " Mustaqiim" keluarnya " Mustaqiin". Orang Padang,
    Sumatera Barat, diajari " Lakanuud " keluarnya " Lekenuuik ". Orang
    Sunda diajari " Alladziina " keluarnya " Alat Zina ".
    Di Jawa diajari " Alhamdu" jadinya " Alkamdu ", karena punyanya ha na
    ca ra ka . Diajari " Ya Hayyu Ya Qayyum " keluarnya " Yo Kayuku Yo
    Kayumu ". Diajari " Rabbil 'Aalamin " keluarnya " Robbil Ngaalamin"
    karena punyanya ma ga ba tha nga.
    Orang Jawa tidak punya huruf " Dlot " punyanya " La ", maka " Ramadlan
    " jadi " Ramelan ". Orang Bali disuruh membunyikan " Shiraathal…"
    bunyinya " Sirotholladzina an'amtha 'alaihim ghairil magedu bi'alaihim
    waladthoilliin ". Di Sulawesi, "' Alaihim" keluarnya "' Alaihing ".
    Karena perbedaan logat lidah ini, maka pada tahun 250 hijriyyah,
    seorang ulama berinisiatif menyusun Ilmu Tajwid fi Qiraatil Quran ,
    namanya Abu Ubaid bin Qasim bin Salam. Ini yang kadang orang tidak
    paham pangkat dan tingkatan kita. Makanya tidak usah pada ribut.
    Murid ulama itu beda dengan murid Rasulullah. Murid Rasulullah, ketika
    dzikir dan diam, hatinya "online" langsung kepada Allah SWT. Kalau
    kita semua dzikir dan diam, malah jadinya tidur.
    Maka disini, di Nusantara ini, jangan heran.
    Ibadah Haji, kalau orang Arab langsung lari ke Ka'bah. Muridnya ulama
    dibangunkan Ka'bah palsu di alun-alun, dari triplek atau kardus,
    namanya manasik haji. Nanti ketika hendak berangkat haji diantar orang
    se-kampung.
    Yang mau haji diantar ke asrama haji, yang mengantar pulangnya belok
    ke kebun binatang. Ini cara pembelajaran. Ini sudah murid ulama.
    Inilah yang orang belajar sekarang: kenapa Islam di Indonesia,
    Nahdlatul Ulama selamat, sebab mengajari manusia sesuai dengan hukum
    pelajarannya ulama.
    Anda sekalian disuruh dzikir di rumah, takkan mau dzikir, karena
    muridnya ulama. Lha wong dikumpulkan saja lama kelamaan tidur. Ini
    makanya murid ulama dikumpulkan, di ajak berdzikir.
    Begitu tidur, matanya tidak dzikir, mulutnya tidak dzikir, tetapi,
    pantat yang duduk di majelis dzikir, tetap dzikir. Nantinya, di
    akhirat ketika "wa tasyhadu arjuluhum ," ada saksinya. Orang disini,
    ketika disuruh membaca Alquran, tidak semua dapat membaca Alquran.
    Maka diadakan semaan Alquran.
    Mulut tidak bisa membaca, mata tidak bisa membaca, tetapi telinga bisa
    mendengarkan lantunan Alquran. Begitu dihisab mulutnya kosong, matanya
    kosong, di telinga ada Alqurannya.
    Maka, jika bukan orang Indonesia, takkan mengerti Islam Indonesia.
    Mereka tidak paham, oleh karena, seakan-akan, para ulama dulu tidak
    serius dalam menanam. Sahadatain jadi sekaten. Kalimah sahadat jadi
    kalimosodo. Ya Hayyu Ya Qayyum jadi Yo Kayuku Yo Kayumu.
    Ini terkesan ulama dahulu tidak 'alim. Ibarat pedagang, seperti
    pengecer. Tetapi, lima ratus tahun kemudian tumbuh subur menjadi Islam
    Indonesia. Jamaah haji terbanyak dari Indonesia. Orang shalat
    terbanyak dari Indonesia. Orang membaca Alquran terbanyak dari
    Indonesia.
    Dan Islam yang datang belakangan ini gayanya seperti grosir: islam
    kaaffah, begitu diikuti, mencuri sapi. Dilihat dari sini, saya
    meminta, Tentara Nasional Indonesia, Polisi Republik Indonesia, jangan
    sekali-kali mencurigai Nahdlatul Ulama menanamkan benih teroris.
    Teroris tidak mungkin tumbuh dari Nahdlatul Ulama, karena Nahdlatul
    Ulama lahir dari Bangsa Indonesia. Tidak ada ceritanya Banser kok
    ngebom disini, sungkan dengan makam gurunya. Mau ngebom di Tuban,
    tidak enak dengan Mbah Sunan Bonang.
    Saya yang menjamin. Ini pernah saya katakan kepada Panglima TNI. Maka,
    anda lihat teroris di seluruh Indonesia, tidak ada satupun anak warga
    jamiyyah Nahdlatul Ulama. Maka, Nahdlatul Ulama hari ini menjadi
    organisasi terbesar di dunia.
    Dari Muktamar Makassar jamaahnya sekitar 80 juta, sekarang di kisaran
    120 juta. Yang lain dari 20 juta turun menjadi 15 juta. Kita santai
    saja. Lama-lama mereka tidak kuat, seluruh tubuh kok ditutup kecuali
    matanya. Ya kalau pas jualan tahu, lha kalau pas nderep di sawah
    bagaimana. Jadi kita santai saja. Kita tidak pernah melupakan sanad,
    urut-urutan, karena itu cara Nahdlatul Ulama agar tidak keliru dalam
    mengikuti ajaran Rasulullah Muhammad saw.


    sumber : Agus Sunyoto Lesbumi
    Di tulis Oleh :


    Translate to : by

    postingan ini berkategori dengan judul Inilah Islam Indonesia . Jangan lupa menyertakan URL http://joyodrono-cahmabung.blogspot.com/2017/06/inilah-islam-indonesia.html . Jika ingin memposting ulang . Terima kasih!

    Belum ada komentar untuk " Inilah Islam Indonesia "

    On Facebook

    Pengikut

    On Twitter

    News Google