• Puisi
  • TV Online
  • Radio online
  • Live score Bola
  • Film
  • Games
  • Tukar Link
  •  banner bengkel
    Diberdayakan oleh Blogger.

    Serat Centini

    centhini
    KALABENDU - GEJALA MASYARAKAT YANG
    KEHILANGAN ARAH

    Oleh : Ki Ageng Mangir

    Note : Serat Centhini adalah buku dalam bahasa Jawa
    (aslinya ditulis memakai huruf Jawa) dalam bentuk
    tembang 'macapat' yang disuruh tulis oleh Pangeran
    Adipati Anom yang kemudian menjadi raja Surakarta -
    Sunan Pakubuwana V (1820 - 1823) pada kira-kira
    tahun 1814 yang terdiri dari dua belas jilid yang berisi
    kisah pelarian dari kedua putra dan satu putri dari
    Sunan Giri ketika kerajaan Giri di Jawa Timur
    dijatuhkan oleh Sultan Agung dari Mataram dan kisah
    perjalanan ini yang merekam banyak kisah, cerita,
    legenda, kepercayaan, tata-cara budaya Jawa dari
    ujung ke ujung Pulau Jawa yang meliputi banyak
    daerah pedalaman maupun pinggiran yang kadang2
    tidak terpengaruh oleh kekuasaan kerajaan Mataram.
    (Sumber penulisan artikel ini adalah Serat Centhini
    yang sudah diterjemahkan dalam dalam bentuk huruf
    latin, tapi masih menggunakan bahasa Jawa madya)

    Ramalan Jayabaya.

    Banyak ramalan atau prediksi masa depan bangsa
    Jawa dan semua ramalan dinamakan ramalan
    Jayabaya, penulis sendiri tidak tahu mana yang asli
    dan mana yang hanya sekedar dari mulut kemulut.
    Satu-satunya sumber yang menjadi referensi penulis
    adalah yang tertulis dalam Serat Centhini pada akhir
    Jilid III pupuh 256 dan Jilid IV pupuh 257 dan 258.

    Pada awal Pupuh 256 dikatakan :
    - Kalanira sang Prabu, Jayabaya Kadhiri ngadhatun,
    katamuan pandhita saking Rum nagri, nama Molana
    Ngalimu, Samsujen tahu kinaot.
    Jadi ramalan yang dikemukakan oleh Prabu Jayabaya
    berasal dari ajaran Maulana Seh Ngali Samsujen yang
    dalam pupuh selanjutnya berdasarkan Kitab Musarar.
    Selanjutnya dalam ramalan yang bermula dari tarih
    Masehi membagi zaman menjadi masing2 tujuh ratus
    tahun yaitu zaman : Kaliswara, Kaliyoga, dan Kalisi-
    ngareki.

    Masing2 tujuhratus tahun dibagi menjadi tujuh seratus
    tahunan sedangkan seratus tahunan dibagi menjadi
    tiga 33 tahunan.
    Dengan pembagian tahun hanya sampai dengan tiga
    kali tujuh ratus tahun, Jayabaya se-olah2 meramalkan
    bahwa akhir zaman akan terjadi pada abad ke 21.
    Sedangkan ramalan yang terjadi pada empat abad
    terakhir tentang tanah Jawa adalah pada pupuh 256,
    tembang 44 s/d 47 sebagai berikut (yang merupakan
    bagian dari tujuh abad zaman Kalisangireki) :

    - Kaping pat arannipun, jaman Kalabendu werdinipun,
    estu Bebendu wahananeki, keh jalma saluyeng
    rembug, dumadya prang lair batos.
    - Ping lima arannipun, jaman Kalasuba tegesipun,
    jaman suka wahananira keh jalmi, antuk kabungahan
    estu, rena lejar sakehing wong.

    - Kaping nem arannipun, jaman Kalasumbaga puniku,
    werdi zaman Misuwur wahanineki, keh jalma gawe
    misuwur, mrih kasusra ing kalakon.
    - Kasapta arannipun, jaman Kalasurata rannipun, werdi
    jaman Alus wahananoreki, akeh jalma sabiyantu, ing
    budining karahayon.

    Jadi setelah bangsa Jawa/Indonesia melewati zaman
    Kalabendu akan mengalami tiga abad zaman keemasan
    dan kemahsyuran sampai dengan akhir zaman. Cuma
    kalau menurut perhitungan Jayabaya zaman Kalabendu
    adalah periode tahun 1800-1900, sedangkan sampai
    saat ini tanda-tanda zamannya masih seperti zaman
    Kalabendu .
    Selanjutnya pada pupuh 257, Jayabaya meramalkan
    akan ada tujuh kerajaan dimulai dari kerajaan
    Pejajaran di tanah Jawa dan setelah itu tanah Jawa
    tidak lagi ada kerajaan, yang terjadi pada saat zaman
    Kalabendu.
    Interpretasi tujuh kerajaan adalah: Pejajaran, Majapahit,
    Pajang, Demak, Mataram, Surakarta, Yogyakarta dan
    masa kemerdekaan yang tidak ada kerajaan lagi di
    Indonesia.

    Dalam Pupuh 257 tembang 23 tercermin peralihan
    dari zaman kerajaan sebagai berikut :

    - Sirnaning kang, kadaton jalaranipun, wawan-wawan
    lawan, bangsa sabrang kulit kuning, mawa srana
    tatunggul turun narendra.
    Yang bisa diterjemahkan bahwa kedatangan bangsa
    sebrang kulit kuning (Jepang) sebagai sarana tidak
    ada lagi kerajaan di Jawa / Indonesia.

    Zaman Kalabendu.

    Pada pupuh 257 tembang 24 sampai dengan 44
    dijelaskan secara terperinci tanda-tanda zaman
    Kalabendu. Penulis sendiri belum pernah membaca
    Serat Kalatidha karangan R.Ng. Ranggawarsita, yang
    kelihatannya telah disadur dan dimasukkan dalam
    bagian dari Serat Centhini pada bagian ini - ini sangat
    mungkin terjadi karena penulisan Serat Centhini
    terjadi pada satu masa dengan masa kehidupan
    R. Ng. Ranggawarsita, bahkan pembukaan Serat
    Centhini jilid 5, dibuat oleh beliau.

    Kemungkinan lain kenapa masa Kalabendu mendapat
    porsi yang lebih banyak dalam Serat Centhini :

    1. Interpretasi bahwa Kalabendu adalah zaman periode
    tahun 1800-1900 dimana saat penulisan Serat Centhini.
    2. Serat Kalatidha yang disadur kedalam Serat
    Centhini pupuh 257 adalah sekedar ilustrasi apa yang
    sedang terjadi pada zaman itu oleh Ranggawarsita
    dan sama sekali bukan ramalan.
    Ilustrasi apa yang terjadi pada masa Kalabendu
    sangat mirip dengan apa yang sedang terjadi pada
    bangsa Indonesia saat ini, Pertanda zaman sama sekali belum terlihat tanda-tanda bahwa
    kita memasuki zaman Kalasuba yaitu suatu periode
    setelah zaman Kalabendu berakhir (seperti yang di
    prediksi oleh Jayabaya).
    Barangkali kita bisa mencoba melihat ilustrasi dari
    masa zaman Kalabendu yang dimulai dari tembang
    28 s/d 44 pupuh 257 Serat Centhini jilid IV :

    - Wong agunge padha jail kurang tutur, marma jeng
    pamasa, tanpa paramarteng dasih, dene datan ana
    wahyu kang sanyata.
    Artinya: Para pemimpinnya berhati jail, bicaranya
    ngawur, tidak bisa dipercaya dan tidak ada wahyu yang
    sejati.

    - Keh wahyuning eblislanat kang tamurun, apangling
    kang jalma, dumrunuh salin sumalin, wong wadon
    kang sirna wiwirangira.
    Artinya : Wahyu yang turun adalah wahyu dari iblis
    dan sulit bagi kita untuk membedakannya, para
    wanitanya banyak yang kehilangan rasa malu.

    - Tanpa kangen mring mitra sadulur, tanna warta nyata,
    akeh wong mlarat mawarni, daya deye kalamun tyase
    nalangsa.
    Artinya : Rasa persaudaraan meluntur, tidak saling
    memberi berita dan banyak orang miskin ber-aneka
    macam yang sangat menyedihkan kehidupannya.

    - Krep paprangan, sujana kapontit nurut, durjana susila
    dadra andadi, akeh maling malandang marang ing
    marga.
    Artinya : Banyak peperangan yang melibatkan para
    penjahat, kejahatan/perampokan dan pemerkosaan
    makin menjadi-jadi dan banyak pencuri malang
    melintang di jalan-jalan.

    - Bandhol tulus, mendhosol rinamu puguh, krep
    grahana surya, kalawan grahana sasi, jawah lindhu
    gelap cleret warsa.
    Artinya : Alampun ikut terpengaruh dengan banyak
    terjadi gerhana matahari dan bulan, hujan abu dan
    gempa bumi.

    - Prahara gung, salah mangsa dresing surur, agung
    prang rusuhan, mungsuhe boya katawis, tangeh lamun
    tentreming wardaya.
    Artinya: Angin ribut dan salah musim, banyak terjadi
    kerusuhan seperti perang yang tidak ketahuan mana
    musuhnya yang menyebabkan tidak mungkin ada
    rasa tenteram dihati.

    - Dalajading praja kawuryan wus suwung, lebur
    pangreh tata, karana tanpa palupi, pan wus tilar
    silastuti titi tata.
    Artinya : Kewibawaan negara tidak ada lagi, semua
    tata tertib, keamanan, dan aturan telah ditinggalkan.

    - Pra sujana, sarjana satemah kelu, klulun Kalathida,
    tidhem tandhaning dumadi, hardayengrat dening
    karoban rubeda.
    Artinya : Para penjahat maupun para pemimpin tidak
    sadar apa yang diperbuat dan selalu menimbulkan
    masalah / kesulitan.

    - Sitipati, nareprabu utamestu, papatih nindhita, pra
    nayaka tyas basuki, panekare becik-becik cakrak
    cakrak.
    Artinya : Para pemimpin mengatakan se-olah-olah
    bahwa semua berjalan dengan baik padahal hanya
    sekedar menutupi keadaan yang jelek.
    - Nging tan dadya, paliyasing Kalabendu, mandar
    sangking dadra, rubeda angrubedi, beda-beda
    hardaning wong sanagara.
    Artinya : Yang menjadi pertanda zaman Kalabendu,
    makin lama makin menjadi kesulitan yang sangat,
    dan ber-beda-beda tingkah laku / pendapat orang
    se-negara.

    - Katatangi tangising mardawa-lagu, kwilet tays
    duhkita, kataman ring reh wirangi, dening angupaya
    sandi samurana.
    Artinya : Disertai dengan tangis dan kedukaan
    yang mendalam, walaupun kemungkinan dicemooh,
    mencoba untuk melihat tanda2 yang tersembunyi
    dalam peristiwa ini.
    (kelihatanya ini adalah ungkapan hati pembuat
    tembang ini).

    - Anaruwung, mangimur saniberike, menceng
    pangupaya, ing pamrih melok pakolih, temah suha
    ing karsa tanpa wiweka.
    Artinya : Berupaya tanpa pamrih.
    - Ing Paniti sastra wawarah, sung pemut, ing zaman
    musibat, wong ambeg jatmika kontit, kang
    mangkono yen niteni lamampahan.
    Artinya : Memberikan peringatan pada zaman yang
    kalut dengan bijaksana, begitu agar kejadiannya /
    yang akan terjadi bisa jadi peringatan (peringatan dari
    R.Ng. Ranggawarsita).

    - Nawung krida, kang menangi jaman gemblung, iya
    jaman edan, ewuh aya kang pambudi, yen meluwa
    edan yekti nora tahan.
    Artinya : Untuk dibuktikan, akan mengalami jaman
    gila, yaitu zaman edan, sulit untuk mengambil sikap,
    apabila ikut gila/edan tidak tahan.

    - Yen tan melu, anglakoni wus tartamtu, boya
    keduman, melik kalling donya iki, satemahe kaliren
    wekasane.
    Artinya : Apabila tidak ikut menjalani, tidak kebagian
    untuk memiliki harta benda, yang akhirnya bisa
    kelaparan.
    - Wus dilalah, karsane kang Among tuwuh, kang lali
    kabegjan, ananging sayektineki, luwih begja kang
    eling lawan waspada.
    Artinya : Sudah kepastian, atas kehendak Allah SWT,
    yang lupa untuk mengejar keberuntungan, tapi yang
    sebetulnya, lebih beruntung yang tetap ingat dan
    waspada (dalam perbuatan berbudi baik dan luhur).

    -Wektu iku, wus parek wekasanipun, jaman Kaladuka,
    sirnaning ratu amargi, wawan-wawan kalawan
    memaronira.
    Artinya : Pada saat itu sudah dekat berakhirnya
    zaman Kaladuka.
    Kalau kita perhatikan ilustrasi zaman Kalbendu adalah
    sangat mirip dengan 'bebendu' atau 'kekalutan' yang
    sedang terjadi saat ini yang kelihatannya tidaksatupun
    pemimpin yang mampu mengatasi (baik yang formal
    yang sedang mejalankan roda pemerintahan maupun
    pimpinan informal diluar pemerintahan - bahkan
    pimpinan ABRI yang punya senjatapun tidak mampu
    mengatasi masalah - bahkan cenderung seperti orang
    bingung / linglung - yang se-mata-mata terpengaruh
    oleh perbawa zaman Kalabendu yang tidak mungkin
    bisa dihindari)

    Zaman Kalasuba.

    Pada pupuh 258, dimulai suatu perubahan dari zaman
    Kaladuka ke zaman Kalasuba yang lebih baik seperti
    pada tembang 1 s/d 6 sebagai berikut :
    - Saka marmaning Hayang Sukma, jaman Kalabendu
    sirna, sinalinan jamanira, mulyaning jenengan nata,
    ing kono raharjanira, karaton ing tanah Jawa,
    mamalaning bumi sirna, sirep dur angkaramurka.
    Artinya : Atas izin Allah SWT, zaman Kalabendu
    hilang, berganti zaman dimana tanah Jawa/Indonesia
    menjadi makmur, hilang kutukan bumi dan angkara
    murkapun mereda.

    - Marga sinapih rawuhnya, nata ginaib sanyata, wiji
    wijiling utama, ingaranan naranata, kang kapisan
    karanya, adenge tanpa sarana, nagdam makduming
    srinata, sonya rutikedatonnya.
    Artinya : Kedatangan pemimpin baru tidak terduga,
    seperti muncul secara gaib, yang mempunyai sifat2
    utama. (note : yang diterjemahkan banyak pihak
    sebagai 'satria piningit')

    - Lire sepi tanpa srana, ora ana kara-kara, duk masih
    keneker Sukma, kasampar kasandhung rata, keh wong
    katambehan ika, karsaning Sukma kinarya, salin
    alamnya, jumeneng sri pandhita.
    Artnya: Datangnya tanpa sarana apa-apa, tidak pernah
    menonjol sebelumnya, pada saat masih muda, banyak
    mengalami halangan dalam hidupnya, yang oleh izin
    Allah SWT, akan menjadi pemimpin yang berbudi
    luhur.
    .
    - Luwih adil paraarta, lumuh maring brana-arta, nama
    Sultan Erucakra, tanpa sangakan rawuhira, tan ngadu
    bala manungsa, mung sirollah prajuritnya, tungguling
    dhikir kewala, mungsuh rerep sirep sirna.
    Artinya : Mempunyai sifat adil, tidak tertarik dengan
    harta benda, bernama Sultan Erucakra (note : penulis
    tidak tahu apa maksudnya, perlu interpretasi tentang
    nama ini), tidak ketahuan asal kedatangannya, tidak
    mengandalkan bala bantuan manusia, hanya
    kepercayaan/keimanan terhadap Allah SWT prajuritnya
    dan senjatanya adalah se-mata2 zikir, musuh semua
    bisa dikalahkan (note: suatu indikasi bahwa pemimpin
    yang akan muncul adalah seorang Muslim yang sangat
    taat beragama, yang semata-mata iman yang sangat
    tebal kepada Allah SWT yang membimbingnya dan
    menjadi kekuatannya)

    - Tumpes tapis tan na mangga, krana panjenengan
    nata, amrih kartaning nagara, harjaning jagat sadaya,
    dhahare jroning sawarsa, denwangeni katahhira, pitung
    reyal ika, tan karsa lamun luwiha.
    Artinya : Semua musuhnya dimusnahkan oleh sang
    pemimpin demi kesejahteraan negara,dan kemakmuran
    semuanya, hidupnya sederhana, tidak mau melebihi,
    penghasilan yang diterima. (note : suatu indikasi
    bahwa kejujuran, kesederhanaan, dan tidak mau
    melebihi apa yang menjadi penghasilannya - tidak
    kurang tidak lebih - menjadi ciri utama dari pemimpin
    yang baru. Dalam tembang ini sangat jelas dilukiskan
    kelemahan pemimipin adalah sikap berlebih-lebih-an
    yang pada posisi sebagai pimpinan cenderung tidak
    menerima apa yang secara murni diberikan oleh negara
    sebagai penghasilannya sehingga menimbulkan banyak
    'kreativitas' untuk mendapatkan 'tambahan' penghasilan
    yang sulit dikontrol batas-batas-nya yang merugikan
    rakyat banyak yang contoh nyatanya adalah situasi
    kehidupan para pimpinan/pejabat pemerintahan selama
    32 tahun rezim Soeharto berkuasa dan juga sampai
    dengan saat ini).

    - Bumi sakjung pajegira, amung sadinar sawarsa,
    sawah sewu pametunya, suwang ing dalem sadina,
    wus resik nir apa-apa, marmaning wong cilik samya,
    ayem enake tysira, dene murah sandhang teda.
    Artinya : Pajak orang kecil sangat rendah nilainya,
    orang kecil hidup tentram, murah sandang dan pangan.

    - Tan na dursila durjana, padha martobat nalangas,
    wedi willating nata, adil asing paramarta, bumi pethik
    akukutha, parek lan kali Katangga, ing sajroning bubak
    wana, penjenenganin sang nata.
    Artinya: Tidak ada penjahat, semuanya sudah bertobat,
    takut dengan kewibawaan sang pemimpin yang sangat
    adil dan bijaksana.

    Kesimpulan.

    Ilustrasi zaman Kalabendu adalah mirip dengan kondisi
    bangsa Indonesia pada saat ini sebagai pertanda
    zaman dimana masyarakat kehilangan arah yang
    merupakan tahap akhir sebelum bangsa Indonesia
    bisa mengatasi dengan kedatangan pemimpin yang
    adil dan bijaksana.
    Bisa saja hal ini adalah sekedar suatu 'angan-angan'
    atau suatu harapan apabila suatu bangsa atau
    masyarakat mengalami tekanan kesulitan yang sangat
    sulit diatasi seperti pada saat ini sehinga harapan akan
    munculnya Ratu Adil (Satria Piningit) adalah sekedar
    suatu pelampiasan sumbat sosial agar masyarakat
    masih menaruh harapan akan datangnya suatu
    perbaikan.
    Waktulah yang akan membuktikan bahwa apa yang
    menjadi ilustrasi dari budaya Jawa baik oleh Prabu
    Jayabaya dari Kediri maupun R. Ng. Ranggawarsita
    adalah sekedar ilustrasi pada masanya yang kebetulan
    berulang pada saat ini dan bisa saja berulang lagi
    dimasa yang akan datang atau merupakan prediksi
    yang mungkin bisa terjadi yang kita mengalami masa
    Kalabendu tahap akhir yang akan menuju masa
    Kalasuba yang penuh harapan.

    Tujuan tulian ini adalah :

    - Mengemukakan suatu ilustrasi zaman sesuai dengan
    referensi budaya Jawa.

    - Mengingatkan kembali bahwa dalam menghadapi
    kesulitan, kebingungan, kekakhawatiran yang amat
    sangat pada saat ini, peringatan R. Ng. Ranggawarsita
    adalah sangat relevan untuk kita cermati kembali 'luwih
    begja kang eling lan waspada' yaitu kunci keselamatan
    agar kita tetap mampu mengontrol tingkah laku kita
    untuk tidak ikut-ikutan gila / edan walaupun dalam
    kesulitan seberapapun besarnya untuk menjaga
    perbuatan kita agar tetap menjaga sifat budi luhur -
    tidak ikut2-an korupsi, tidak ikut2-an menjarah, tidak
    ikut2-an merampok dijalanan, tidak ikut2-an merusak,
    menyerahkan semuanya dengan ikhlas kepada Allah
    SWT yang hanya atas izinnya semata semua kejadian
    akan bisa berlaku apakah seseorang mendapat suatu
    kesulitan / musibah ataupun dipermudah jalannya.
    (Walaupun tidak mudah bersikap seperti ini pada
    zaman ini - dan ini nyata2 cobaan buat diri kita semua -
    dan tidak semua orang mampu lulus ujian melewati
    zaman Kalabendu dengan selamat kecuali 'yang eling
    lan waspada').

    - Memberikan harapan bahwa keadaan akan lebih baik
    bila zaman Kalabendu berakhir dan perbawa
    (kewibawaan) pemimpin bisa kembali dengan
    datangnya zaman Kalasuba.
    Note: Terjemahan dari tembang Jawa kedalam Bahasa
    Indonesia adalah bedasarkan interpretasi pribadi penulis
    dengan banyak keterbatasan pemahaman bahasa Jawa
    madya. Penulis menyilahkan kalau ada pembaca yang
    ingin memberikan koreksi untuk terjemahan/interpretasi
    yang lebih akurat.

    Source:http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/1998

    Demikian cuplikan serat centini yang saya dapat dari Mbah Google.
    Mohon isikan komentar dalam kotak di bawah,demi kelangsungan Blog ini.makasih....


    By :


    Translate to : by

    postingan ini berkategori CERITA / NASKAH / SASTRA dengan judul Serat Centini . Jangan lupa menyertakan URL http://joyodrono-cahmabung.blogspot.com/2011/08/serat-centini.html . Jika ingin memposting ulang . Terima kasih!
    Ditulis oleh: juanx criex -

    Belum ada komentar untuk " Serat Centini "

    Poskan Komentar

    Monggo tinggalkan jejak Sobat dengan mengisi kotak komentar

    On Twitter

    News Google