• Puisi
  • TV Online
  • Radio online
  • Live score Bola
  • Film
  • Games
  • Tukar Link
  •  joyodrono
    Diberdayakan oleh Blogger.

    Kenapa Harus Korupsi ?

    Kenapa Harus Korupsi ? | joyodrono mabung
    Korupsi….korupsi…korupsi……
    Tiap detik dimana mana beritanya kok korupsi

    Dari jaman Majapahit sampai jaman SBY. Korupsi memang sudah menjadi penyakit sosial mulai dari tingkat pedesaan sampai tingkat pemerintahan dan sangat sulit diberantas,dan rasanya cocok kalau Indonesia itu mencanangkan adanya “Hari Korupsi Nasional”. Untuk melakukan pemberantasan korupsi ternyata juga sangat banyak hambatannya. Makanya, bagaimanapun kerasnya usaha yang dilakukan oleh pemerintah melalui lembaga-lembaga negara ternyata korupsi juga tidak mudah dikurangi apalagi dihilangkan. Bahkan secara seloroh bisa dinyatakan bahwa korupsi tidak akan pernah bisa untuk dihilangkan. Kenyatannya memang tidak ada suatu negara di dunia ini yang memiliki indeks persepsi korupsi (IPK) yang berada di dalam angka mutlak 10, paling banter adalah mendekati angka mutlak tersebut.

              Sejarah korupsi memang setua usia manusia. Ketika manusia mengenal relasi sosial berbasis uang atau barang, maka ketika itu sebenarnya sudah terjadi yang disebut korupsi. Hanya saja memang kecanggihan dan kadar korupsinya masih sangat sederhana. Akan tetapi sejalan dengan perubahan kemampuan manusia, maka cara melakukan korupsi juga sangat variatif tergantung kepada bagaimana manusia melakukan korupsi tersebut. Jadi, semakin canggih manusia merumuskan rekayasa kehidupan, maka semakin canggih pula pola dan model korupsinya.


              Untuk menemukan penyebab korupsi, maka saya ingin menggunakan konsepsi Alfred Schutz (The Phenomenology of The Social World) tentang BECAUSE MOTIVE atau disebut sebagai motif penyebab. Di dalam konsepsi ini, maka dapat dinyatakan bahwa tindakan manusia ditentukan oleh ada atau tidaknya faktor penyebabnya. Maka seseorang melakukan korupsi juga disebabkan oleh beberapa faktor penyebab. Faktor penyebab itulah yang disebut sebagai motif eksternal penyebab tindakan.

              Manusia dewasa ini sedang hidup di tengah kehidupan material yang sangat mengedepan. Dunia kapitalistik memang ditandai salah satunya ialah akumulasi modal atau kepemilikan yang semakin banyak. Semakin banyak modal atau akumulasi modal maka semakin dianggap sebagai orang yang kaya atau orang yang berhasil. Maka ukuran orang disebut sebagai kaya atau berhasil adalah ketika yang bersangkutan memiliki sejumlah kekayaan yang kelihatan di dalam kehidupan sehari-hari. Ada outward appearance yang tampak di dalam kehidupan sehari-harinya. Cobalah kalau kita berjalan di daerah-daerah yang tergolong daerah komunitas kaya, maka hal itu cukup dilihat dengan seberapa besar rumahnya, di daerah mana rumah tersebut, dan apa saja yang ada di dalam rumah tersebut. Di Surabaya ini, maka dengan mudah dapat diketahui bahwa ada perumahan yang tergolong sebagai perumahan ”elit”. Datanglah di perumahan Darma Husada Indah, maka akan terpampang bagaimana rumah kaum elit di negeri ini. Dan inilah gambaran kesuksesan atau keberhasilan kehidupan.

              Di tengah kehidupan yang semakin sekular, maka ukurannya adalah seberapa besar seseorang bisa mengakses kekayaan. Semakin kaya, maka semakin berhasil. Maka ketika seseorang menempati suatu ruang untuk bisa mengakses kekayaan, maka seseorang akan melakukannya secara maksimal. Di dunia ini, maka banyak orang yang mudah tergoda dengan kekayaan. Karena persepsi tentang kekayaan sebagai ukuran keberhasilan seseorang, maka seseorang akan mengejar kekayaan itu tanpa memperhitungkan bagaimana kekayaan tersebut diperoleh.

              Dalam banyak hal, penyebab seseorang melakukan korupsi adalah karena ketergodaannya akan dunia materi atau kekayaan yang tidak mampu ditahannya. Ketika dorongan untuk menjadi kaya tidak mampu ditahan sementara akses ke arah kekayaan bisa diperoleh melalui cara berkorupsi, maka jadilah seseorang akan melakukan korupsi. Jadi, jika menggunakan cara pandang penyebab korupsi seperti ini, maka salah satu penyebab korupsi adalah cara pandang terhadap kekayaan. Cara pandang terhadap kekayaan yang salah akan menyebabkan cara yang salah dalam mengakses kekayaan. Korupsi dengan demikian kiranya akan terus berlangsung, selama masih terdapat kesalahan tentang cara memandang kekayaan. Semakin banyak orang salah dalam memandang kekayaan, maka semakin besar pula kemungkinan orang akan melakukan kesalahan dalam mengakses kekayaan.

    Lantas bagaimana untuk antisipasinya?....
    Kalau menurut saya hanya keyakinan dan keimanan diri sendiri yang bisa.
    Repost kembali ini berdasarkan pandangan dari Bp.Prof.Dr.Nur Syam,M.Si .

    Mudah mudahan Tukang Korupsi dari tingkat desa sampai pusat segera Tobat dan mengembalikan yang bukan Haknya.
    Allahu alam.



    Di tulis Oleh :


    Translate to : by

    postingan ini berkategori ARTIKEL dengan judul Kenapa Harus Korupsi ? . Jangan lupa menyertakan URL http://joyodrono-cahmabung.blogspot.com/2011/09/kenapa-harus-korupsi.html . Jika ingin memposting ulang . Terima kasih!

    2 komentar untuk " Kenapa Harus Korupsi ? "

    Blue mengatakan...

    Kita harus bertekad jangan sekali-kali melakukan korupsi. Bahkan harus membantu memberantas tindak korupsi yang telah nyata-nyata menciptakan kesengsaraan semua terutama rakyat kecil.

    Fukumitsu mengatakan...

    Sebuah pekerjaan besar untuk kita semua, membersihkan negara ini dari korupsi. Artikel anda sangat bagus ^_^

    On Facebook

    Pengikut

    On Twitter

    News Google