• Puisi
  • TV Online
  • Radio online
  • Live score Bola
  • Film
  • Games
  • Tukar Link
  •  joyodrono
    Diberdayakan oleh Blogger.

    Di hatimu ku titip cinta, Bagian 4



    “Kamu melamun, El?” tepukan lembut di bahu Elsa menyadarkan wanita itu dari keterdiamannya yang berlangsung cukup lama. Di balikkannya tubuhnya memandang Noni yang sudah berdiri di hadapannya.

    “Masih memikirkan Mas Pri? My God, sampai kapan kamu akan seperti ini?” Noni memukul dahinya pelan. “Aku tak pernah bisa melupakannya, Non,” desah Elsa dengan nada keluh.

    “ Aku paham itu, El,” Noni segera mengambil tempat di hadapan Elsa. “Tapi, orang yang kau cintai itu telah pergi dan tak akan pernah kembali lagi. Sadarlah, El. Jangan biarkan dirimu terus berkubang dalam duka. Ingat, kamu tidak hidup sendiri. Masih ada dua anakmu yang membutuhkan perhatianmu. Kalau kau masih begini terus, bagaimana kau bisa mencurahkan kasih sayangmu pada mereka?”

    Elsa mengangkat kepalanya yang tertunduk. Digigitnya bibirnya dengan perasaan sedih. Apa yang dikatakan Noni benar, Pri sudah pergi dan tak akan pernah kembali lagi, jadi untuk apa terus meratapi kepergiannya?

    “ Yang lalu biarkanlah berlalu. Kamu masih muda, El. Masih punya harapan untuk kembali meraih hidup bahagia. Jangan sia-siakan kesempatan itu. Kau tahu, Mas Pri di alam sana juga tak menginginkan hidupmu terus begini,” suara Noni kembali berkumandang menjegal angannya yang sempat melayang. Ah, memang Cuma Noni sahabat yang mau mengerti isi hatinya.

    Tiga tahun ia tinggal di Jakarta, tanpa disangka-sangka Noni menyusulnya. Persahabatan mereka yang sempat terputus itu pun akhirnya berlanjut kembali. Tak terkirakan kebahagiaan Elsa bisa bertemu kembali dengan sahabat lamanya yang telah banyak menolongnya. Sama seperti dirinya, Noni pun mengontrak sebuah rumah mungil untuk tempat tinggalnya di Jakarta ini.

    “Kau tahu, Non. Mas Pri sudah meninggalkan kami hampir sebulan lamanya. Mungkin saat ini aku masih mempunyai persediaan cukup untuk menghidupi anak-anakku. Tapi bagaimana nanti, kalau persediaan yang sempat ditinggalkan Mas Pri mulai habis?” keluhnya kemudian tanpa canggung-canggung lagi. Dengan Noni ia memang biasa terbuka dalam mencurahkan uneg-uneg yang ada di hatinya.

    “Kau kan bisa bekerja, El?” ujar Noni menenangkannya.
    “Bekerja? Bekerja di mana, Non? Kau kan tahu aku Cuma lulusan SMP. Apakah Jakarta yang terkenal kejam ini membutuhkan tenaga lulusan rendah seperti diriku?”

    “Kamu jangan pesimis begitu, Elsa. Banyak jalan menuju Roma,” Noni masih berusaha meyakinkannya.

    “Yah, taruh seandainya aku bisa bekerja kembali, siapakah yang akan menjaga anak-anakku? Mereka masih terlalu kecil untuk kutinggalkan,” sedah Elsa lagi, pahit.

    “Aduh, pikiranmu jangan sempit begitu dong, El. Kalau kamu bekerja, kamu kan bisa memelihara pembantu yang akan menjaga anak-anakmu.”

    “ Pembantu? Ah, apakah gajiku mencukupi untuk membayar pembantu, Noni? Lagi, dapatkah aku mempercaya pembantu baru begitu saja? Bagaimana kalau dia malah melarikan anak-anakku di saat aku bekerja?” ucapnya lemas.

    “ Ah, di saat seperti ini janganlah terlalu banyak pertimbangan, El. Jalanilah dulu apa adanya,” Noni tersenyum kecil mengetahui apa yang dipikirkan sahabatnya. “Sebab, kalau kamu terus berpikiran seperti ini, jangan-jangan kamu malah stress nanti.”

    “Sungguh, aku bingung dengan masa depan yang akan kuhadapi nanti, Non. Tak pernah terlintas di pikiranku untuk membawa Koko dan Kiki pulang ke rumah orantuaku atau ke rumah orang tua Mas Pri yang telah menghinaku.”

    “Sabarlah, El. Tenanglah, aku akan mencarikan jalan keluar yang terbaik untukmu. Pikiranmu sudah sedemikian ruwet. Kamu perlu suasana baru untuk menyegarkan kembali jalan pikiranmu itu,” ujar Noni lagi menawarkan.

    Sesaat Elsa menarik napasnya perlahan lalu menghembuskan kembali. Noni benar. Sejak kepergian Mas Pri pikirannya seolah menjadi buntu. Perasaan malas dan enggan begitu menguasai dirinya. Ia bagaikan anak ayam yang kehilangan induknya. Padahal semestinya ia tidak boleh bersikap seperti ini. Karena bukan hanya dirinya saja yang patut dipikirkan, masih ada dua anak buah cinta kasihnya dengan Mas Pri yang amat membutuhkan dirinya.

    “Ikutilah saranku, El. Kamu harus refreshing untuk menghilangkan beban berat yang membelenggu dirimu . kali saja setelah itu, pikiranmu akan jernih kembali dan kamu siap menghadapi masa depan yang masih panjang.”

    “ Mungkin apa yang kamuu katakan benar, Non,” Elsa mengangguk pelan.
    “Oya, malam Minggu nanti aku dan Tanti amu ke pesta perjamuan makan malam. Kamu mau ikut?” tanya Noni lagi menawarkan.

    “Kalau kalian tidak keberatan mengajakku, aku sih mau saja ikut, tapi bagaimana dengan Koko dan Kiki?”

    “Ajak saja mereka, tidak apa-apa kok.”

    “Apa tidak merepotkan?”

    “Kamu tak Perlu khawatir, El. Yang mengadakan resepsi ini kebetulan teman baikku dan ia juga menyediakan tempat bermain khusus untuk para tamu yang membawa nak.”

    “Sungguhkah itu, Non?” Bola mata Elsa berbinar ceria.

    “Tentu, El. Sebelum mengadakan acara ini, dia kan sempat kompromi dulu padaku,” ucap Noni separoh menyombong.

    “Ceileh, kayak orang penting saja, pakai kompromi dulu,” Elsa tersenyum simpul.

    “Lho, gimana tidak mau dibilang orang penting. Wong yang mau bikin acra itu kan masih ada hubungan saudara dengan istri kakakku,” Noni mengerjab nakal.

    “Pantesan,” Elsa tersenyum lebar.

    Bersambung......
    Di tulis Oleh :


    Translate to : by

    postingan ini berkategori CERITA / CERPEN dengan judul Di hatimu ku titip cinta, Bagian 4 . Jangan lupa menyertakan URL http://joyodrono-cahmabung.blogspot.com/2013/03/di-hatimu-ku-titip-cinta-bagian-4.html . Jika ingin memposting ulang . Terima kasih!

    Belum ada komentar untuk " Di hatimu ku titip cinta, Bagian 4 "

    On Facebook

    Pengikut

    On Twitter

    News Google