• Puisi
  • TV Online
  • Radio online
  • Live score Bola
  • Film
  • Games
  • Tukar Link
  •  joyodrono
    Diberdayakan oleh Blogger.

    Di hatimu Ku titip Cinta, Bagian 1

    di hatimu kutitip cinta 1

    Tanah pemakaman sudah sepi.Satu persatu para pelayat meninggalkan tempat.Namun di tempatnya,Elsa masih bersimpuh dengan hati pilu.Matanya yang sembab tak dapat menyembunyikan betapa lara dan sedihnya hati Wanita itu.
    "Mas Pri...," panggilnya lirih,kembali ia menangis tersedu-sedu.Tak pernah di bayangkannya kalau orang yang amat di kasihi dan di cintainya pergi begitu cepat.

    "Sudahlah,El relakan kepergiannya," bisik Noni,teman dekatnya yang sejak tadi berada di sisinya.
    " Mas...," desahnya lagi dengan suara parau."Mengapa secepat ini kau meninggalkan kami ?"
    "Sudahlah, El. Tabahkan hatimu. Tuhan telah memanggilnya untuk kembali...!" kembali Noni berbisik lirih ditelinganya. Direngkuhnya tubuh wanita itu itu untuk diajaknya berdiri.

    Dengan tubuh lemas Elsa mencoba untuktegak berdiri. Dipandangnya sekali lagi gundukan tanah tempat jasad suaminya dimakamkan sebelum Noni membawanya berlalu. Betapa nelangsa hatinya saat ini. kematian suaminya benar-benar memukul batinnya dan membuatnya begitu rapuh.
    "Mana anak-anak,Non?" tanyanya kemudian begitu melihat tak ada seorang anaknya pun yang berada disana.

    "Mereka sudah dibawa tanti pulang lebih dulu," sahut Noni menenangkan hatinya.
    Kembali Elsa mengalihkan pandangannya ke arah areal pemakaman di sisi kirinya. Tinggal beberapa orang saja yang masih berdiam di sana itu pun tak lain dari beberapa orang penjaga pemakaman yang masih asyik membabat rumput dan membersihkan tempat pemakaman itu.

    Selamat tinggal,Mas. Semoga kau damai di alam sana, bisik hatinya pedih.Dengan mata berkaca-kaca dipandangnya tanah pemakaman suaminya yang masih penuh bunga dengan tanahnya yang masih merah.

    Ah,rupanya hanya samppai d sini kehidupan yang bahagia bersama Mas Pri. Kini suaminya yang baik dan penuh pengertian itu sudah pergi dipanggil Tuhan. Semoga Tuhan mau melapangkan jalannya dan memberi ketabahan bagi yang ditinggalkannya.

    Begitu mobil yang dikendarai Noni berlalu meninggalkannya tanah pemakaman yang sunyi itu, Elsa pun merasa ada sisi hati lainnya yang tertinggal di sana. Sisi hati yangmengawang seakan tak rela dengan perpisahan yang terasa begitu berat itu.

    Elsa menelan ludahnya yang terasa getir. Dibiarkan air matanya mengalir membasahi pipinya. Sementara kedua bahunya berguncang menahan kesedihan hatinya.

    "Kamu harus tabah,El,"suara Noni kembali memecah kebisuan yang terjadi antara mereka. "Relakan kepergian Mas Pri dengan hati lapang dan jangan biarkan dirimu terus berkubang dalam kesedihan. Ingatlah, masih ada dua anakmu yang membutuhkan perhatian dan kasih sayangmu..."

    "Apa yang akan kukatakan kalau suatu saat nanti mereka menanyakan kenapa papanya tak pulang-pulang, Non ?" desahnya pedih.
    "Mereka masih terlalu kecil untuk kujelaskan apa yang telah terjadi."

    Nonimenghembuskan nafasnya yang terasa berat. Ia begitu memahami apa yang menjadi kekhawatiran sahabatnya saat ini. Perpisahan ini memang terlalu menyakitkan bagi Elsa dan anak-anaknya itu, pergi begitu saja tanpa pesan dan kesan.

    Seminggu yang lalu, Noni memang sempat mendengar dari Elsa ketika ia bertandang ke rumahnya, yang mengatakan bahwa Pri baru saja sembuh dari sakitnya. Setelah sembuh itu pula, Pri kembali bekerja seperti biasanya. Namun siapa yang sangka, kalu lima hari kemudian penyakit itu kambuh dan menghilangkan nyawa Pri.

    "Beriakan mereka pengertian yang lebih baik yang bisa mereka terima, El. Kedua anakmu begitu manis-manis, aku percaya mereka mau mengerti dan menerima kepergian papanya," ujar Noni kemudian setelah sekian lama tercenung.

    Mendengar ucapan itu kembali Elsa menghembuskan napasnya yang tersa berat. Kepergian suaminya memang sungguh di luar dugaannya. Minggu kemarin dokter sudah menyatakan bahwa penyakit Pri benar-benar sudah sembuh total. Oleh sebab itu Elsa tak mersa khawatir begitu Mas Pri, suaminya yang tak pernah lelah duduk diam itu kembali bekerja seperti biasanya. Namun siapa yang sangka kemuidan, kalau kemarin sore begitu suaminya kembali dari tugasnya ia terlihat pucat dan beberapa kali memuntahkan darah.

    Dengan panik Elsa pun segera membawa suaminya ke rumah sakit. Namun, malang tak dapat ditolak. Dalam perjalanan suamninya menghebuskan napas terakhir di pangkuannya. Tak ada pesan yang terucap. Tak ada kesan yang terlintas. Dan Elsa pun merasa menyesali, mengapa Tuhan memanggil suaminya setragis itu. tanpa ia sempat berpikir apalagi menduga sebelumnya.
    Ah, apakah kepergian suamninya itu karena ia terlalu lelah bekerja, mencari nafkah untukistri dan anak-anaknya? Mengapa dia tidak segera tanggap untuk membiarkan suaminya beristirahat beberapa hari walalupun dokter menyatakan suaminya sudah sembuh benar?

    Selarang semuanya sudah terlambat. Tak ada hal apapun yang bisa mengembalikan suamninya ke pangkuannya.

    Teringat itu air mata Elsa kembali mengalir deras. Begitu banyak kenangan manis di antara mereka yang takkan pernah dapat dilupakan. Pri yang lembut, Pri yang penuh perhatian, Pria yang amat mencintai dirinya serta anak-anaknya. Ah, begitu cepatnya waktu memisahkan mereka. Begitu cepatnya kisah manis itu terlewati dan takkan mungkin terulang lagi.

    Elsa masih terisak begitu mobil yang dikendarai Noni berhenti di pekarangan rumahnya.
    Tanti yang sudah lebih dulu tiba segera keluar dan memapahnya berdua Noni masuk ke dalam rumah.

    "Sudahlah, El. Jangan nangis terus. Lihat, Koko dan Kiki ikut sedih melihat mamanya menagis...," ujar Noni kemudian setelah mendudukannya ke atas sofa.
    Elsa pun segera menghapus air matanya begitu melihat kedua anaknya dtang menghampiri.
    "Mama ...kenapa Mama nangis terus?" tanya si bungsu Kiki yang baru berusia dua tahun setengan dengan suara kanak-kanaknya. Dengan manjanya gadis kecil itu pun segera menyandarkan tubuhnya ke tubuh mamanya.

    "Jangan sedih, Ma...," suara lirih Koko menguatkan batinnya untuk tidak larut dalam kesedihan terus menerus. Dipandangnya putra sulungnya yang masih berusia empat tahun itu dengan tatapan iba. Kepolosan terpancar di mata Koko yang kini juga ikut memeluk dirinya dengan haru. Ah, anak seusia Koko dapatkah menyelami perasaanya saat ini ?

    Tampaknya anak lelaki itu terlihat tegar. Tapi, benarkah hatinya tegar karena ia sudah merelakan kepergian papnya tercinta? Atau sesungguhnya ia belum mengerti apa yang telah terjadi dan menimpa keluarganya? Tidakkah ia tahu kalau Papa yang dicintainya yang setiap sore selalu dinanti kepulangannya, kini telah berpulang dan tak akan pernah kembali lagi?

    Dengan hati hancur Elsa memeluk kedua anaknya erat-erat. Noni dan Tanti yang memandang mereka pun jadi trenyuh. Tanpa sadar setitik air mata juga mengambang di pelupuk mata mereka.

    "Mama nggak usah sedih....," kembali terdengar suara Koko yang begitu dekat dengan telinganya. " Tidak anakku, Mama tidak akan sedih lagi. Setelah kepergian Papa, Mama akan merawat kalian sepenuh hati," ucapnya parau. Ditekannya debur hatinya yang makin menjadi-jadi antara rasa sedih, haru, dan trenyuh memikirkan nasib dua anaknya kelak.

    Kepala keluarga yang biasanya mencari nafkah buat mereka kini telah pergi, apa yang dapat diperbuatnya nanti? Dapatkah ia menggantikan posisi suaminya dalam hal mencari nafkah juga memberikan perhatian dan kasih sayang? Kalau memang ia terpaksa bekerja, siapa yang akan merawat dua anaknya yang masih kecil-kecil itu? Padahal di Jakarta ini, ia tidak punya saudara. Begitupun juga suaminya.

    "Elsa, sudahlah. Bawa anak-anakmu tidur. Kasihan, mereka begitu lelah. Begitupun juga dengan kamu," ujar Noni kemudian memecah keharuan yang terjadi anatara mereka. "Tadi aku sudah menyuruh mereka tidur, El. Tapi mereka tidak mau dan ingin menunggumu pulang,"kata Tanti menambahi.

    Elsa menggigit bibirnya keras. Koko dan Kiki memang kerap bersamanya setiap hari, jadi mana mungklin mereka tidur bersama orang lain. kalau tadi Tanti berhasil mengajak mereka pulang, karena ia tak tega melihat kedua anaknya berpanas-pans dengan raut wajah lelah. Untung saja dengan bujukan, Tanti berhasil membawa mereka kembali ke rumah. Walaupun pada akirnya Tanti tak berdaya untuk mengajak kedua anak itu untuk tidur, karena mereka ngotot menunggu mamanya pulang.

    "Tidurlah, El," ucap Tanti kemudian dengan suara lembut. "Bawa;ah anak-anakmu tidur. Kasihan mereka. Aku dan Noni akan menjaga di sini sampai kamu kembali bangun."

    " Kalian bersedia?" Elsa terpana mendengar ucapan itu." Tentu saja," ucap Noni dan Tanti sambil mengangguk bebarengan.

    "Terima kasih,"Elsa menyahut haru. "Aku bahagia mempunyai teman sebaik kalian..."
    "Sudahlah,"Noni cepat menepis.Elsa pun segera beranjak dan membimbing kedua sahabatnya berganti-ganti dengan hati terharu.

    "Terima kasih sebelumnya nih," ucapnya lagi. "Maaf. aku sudah merepotkan kalian berdua."
    "Siapa bilang merepotkan, El? Untuk seorang teman baik, kami pasti akan membantu sebisa dan sekuat tenaga yang ada," sahut Tanti cepat.

    Elsa tersenyum. Kemudian di tutupnya pintu kamarnya. Ada persaan lega menaungi hatinya yang sedih. Noni dan Tanti memang dua sahatnya yang baik dan bisa dipercaya. Kalau saja tidak ada mereka, entah apa yang akan terjadi.

    Sungguh Elsa tak dapat membayangkan bagaimana seandainya di saat begini, ia tak mempunyai dua sahabat baik itu. Ayah dan ibunya berada di desa dan sudah sekian tahun tak dijenguknya. Sementara keluarga suaminya sendiri tak ada yang dikenalnya, karena mereka menikah tanpa persetujuan dari kedua orang tua suaminya itu.

    Elsa merebahkan tubuhnya yang terasa penat disamping tunuh kedua anaknya yang dalam waktu sebentar saja sudah terlelap. Ah, betapa lelah sekali tubuhnya, belum lagi semalam ia harus begadabg menunggui jasad suaminya di rumah sakit. kesesakan dan keperihan terasa memukul batinnya.

    Sungguh ia tak menyangka sampai di sinilah akhirnya kisah cinta dan kehidupannya bersama Pri, suaminya. Perlahan Elsa memejamkan matanya untuk memenuhi kantuknya yang tak tertahankan. Tak lama kemudian ia pun sudah terlelao dengan membawa mimpi masa lalunya.

    BERSAMBUNG...........

    Di tulis Oleh :


    Translate to : by

    postingan ini berkategori CERITA / CERPEN dengan judul Di hatimu Ku titip Cinta, Bagian 1 . Jangan lupa menyertakan URL http://joyodrono-cahmabung.blogspot.com/2013/03/di-hatimu-ku-titip-cinta.html . Jika ingin memposting ulang . Terima kasih!

    Belum ada komentar untuk " Di hatimu Ku titip Cinta, Bagian 1 "

    On Facebook

    Pengikut

    On Twitter

    News Google